
YOGYAKARTA – Lebih dari sekadar hamparan pemandangan alam, Geopark Jogja merupakan sebuah “Living Geopark” di mana geologi menjadi fondasi bagi tumbuh dan berdayanya peradaban Mataram. Keistimewaan wilayah ini terletak pada harmoni langka: titik di mana sains modern memvalidasi kearifan leluhur dalam menjaga keseimbangan alam.
Mengenal Dijo, Si Penjaga Rahasia Alam Jogja
Untuk mendekatkan narasi sejarah bumi kepada masyarakat, Geopark Jogja menghadirkan Dijo, maskot resmi yang bertugas menceritakan kekayaan alam bumi Mataram.
-
Filosofi Nama: Nama Dijo berasal dari singkatan Adiloka Jogja, yang berarti dunia yang indah dan mulia. Melalui sosok ini, tersampaikan pesan bahwa setiap sudut Geopark Jogja adalah kepingan surga yang dititipkan untuk kita jaga.
-
Inspirasi Visual: Sosok Dijo terinspirasi dari Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol), yang merupakan flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta. Pohon ini unik karena buahnya tumbuh bergerombol langsung pada batang utama dan secara filosofis melambangkan penyatuan niat dan kerja (manunggalingsedya kaliyan gegayuhan).
-
Peran Edukasi: Dijo hadir sebagai ‘perwakilan dari alam’ di tengah bebatuan purba dan deburan ombak. Ia menjadi pengingat bahwa alam adalah teman hidup yang harus diajak bicara demi kelestarian bagi anak cucu kita nanti.
Keselarasan Leluhur dan Bentang Alam Autentik
Sejarah pembangunan Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari realitas geologisnya. Sri Sultan Hamengku Buwono I merancang tata kota yang selaras dengan bentang alam sekitar kerajaan. Filosofi utama Hamemayu Hayuning Bawono—menjaga keindahan, keselamatan, dan kelestarian alam—menjadi pedoman pembangunan yang menciptakan harmoni antara ruang hidup manusia dengan dinamika bumi.
Konektivitas Aktif: Dari Merapi hingga Gumuk Pasir
Salah satu fenomena geologi yang paling menakjubkan di dunia terdapat di sini. Terjadi sebuah hubungan fisik yang sinkron dalam satu ekosistem raksasa:
-
Pasir vulkanik dari erupsi Gunung Merapi dibawa oleh aliran Sungai Progo dan Opak menuju laut.
-
Material tersebut kemudian dihantam gelombang Samudra Hindia yang kuat.
-
Hingga akhirnya, diterbangkan angin menjadi Gumuk Pasir Parangtritis melalui fenomena eolian.
Warisan yang Harus Kita Jaga
Dari kawah Merapi hingga deburan ombak Selatan, Jogja adalah satu-satunya tempat di dunia yang memadukan jejak purba, visi kosmologis, dan kehidupan masyarakat modern dalam satu harmoni berkelanjutan. Bersama Dijo, mari kita menjadi pahlawan lingkungan dengan menjaga keasrian setiap geosite yang kita miliki.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai kekayaan geologi dan kegiatan pelestarian, kunjungi laman resmi kami di geoparkjogja.jogjaprov.go.id.



