
KICK OFF MEETING GEOPARK JOGJA 2026
YOGYAKARTA – Semangat kolaborasi untuk menjaga dan mempromosikan warisan geologi Daerah Istimewa Yogyakarta tetap membara. Bertempat di Ruang Rapat Wisanggeni, Gedung Unit 8 Lantai 3, Kompleks Kepatihan Danurejan, Pemerintah Daerah DIY menyelenggarakan Kick Off Meeting Geopark Jogja Tahun Anggaran 2026 pada Senin, 16 Maret 2026. Pertemuan strategis ini merupakan langkah krusial dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan Geopark Jogja pasca penetapan status sebagai Geopark Nasional melalui Keputusan Menteri ESDM No. 171.K/GL.01/MEM.G/2025.
Menatap Target Pendaftaran UNESCO di Tahun 2027
Tahun 2026 diproyeksikan sebagai jembatan krusial untuk mematangkan seluruh dokumen dan persyaratan teknis. Dalam sambutannya, Ibu Agnes Dhiany Indria Sari, S.E., M.M., menggarisbawahi pentingnya momentum ini berdasarkan hasil komunikasi strategis dengan Bappenas. Geopark Jogja ditargetkan untuk mengajukan pendaftaran resmi ke UNESCO paling lambat pada Juni 2027.
Ibu Agnes menekankan bahwa keberhasilan visi besar ini mustahil dicapai tanpa kerja sama lintas sektor.
“Persiapan kita menuju UNESCO Global Geopark tentunya tidak akan bisa berjalan sendiri tanpa kita bergandeng tangan bersama-sama. Meskipun kita mengambil waktu di ‘time limit’ menjelang libur, mudah-mudahan tenaga yang masih terkumpul ini tetap memberikan esensi yang luar biasa untuk perkembangan Geopark Jogja,” tegas beliau.
Isu Strategis dan Prioritas Pengelolaan 2026
Pertemuan ini membedah tujuh isu strategis yang akan menjadi fokus utama di tahun anggaran 2026:
- Penguatan Sinergi & Review Pengelolaan: Melakukan peninjauan kembali rencana induk serta revisi Pergub No. 71 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Taman Bumi di DIY.
- Pemberdayaan Masyarakat & Ekonomi: Mengintegrasikan produk lokal atau geoproduct dengan ekosistem digital seperti SiBakul dan Jogja Market.
- Konservasi & Mitigasi: Percepatan restorasi Gumuk Pasir serta sinkronisasi pengurangan risiko bahaya geologi dan perubahan iklim.
- Edukasi & Visibilitas: Meningkatkan nilai tambah sektor pendidikan melalui penguatan edukasi serta optimalisasi kanal publikasi seperti website dan media sosial untuk memperkenalkan kekayaan geologi Jogja ke dunia internasional.
Ibu Agnes juga menambahkan pentingnya aspek ekonomi dan edukasi bagi masyarakat lokal.
“Kita perlu melakukan penguatan edukasi untuk memberikan nilai tambah pada sektor pendidikan, serta mendorong sinergi pengembangan produk lokal atau geoproduct melalui platform digital agar dampaknya dapat dirasakan langsung secara ekonomi oleh masyarakat,” imbuh beliau.
Kolaborasi Empat Pilar untuk Pembangunan Berkelanjutan
Keberhasilan pengelolaan Geopark Jogja berpijak pada empat pilar utama: Konservasi, Edukasi, Ekonomi, dan Sarana Prasarana. Forum ini mendorong seluruh pemangku kepentingan—mulai dari Badan Pengelola, akademisi, hingga komunitas pengelola situs budaya dan kehati—untuk menyelaraskan program kerja dengan standar global UNESCO.
Beberapa agenda teknis yang segera ditindaklanjuti pasca rapat ini meliputi penyusunan rencana tapak untuk situs Lava Bantal dan Nanggulan Eosen, serta sinkronisasi deliniasi bersama kawasan Karst Gunung Sewu.
Keberhasilan Geopark Jogja bersandar pada kolaborasi multisektor yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, dan komunitas. Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan utama, antara lain:
Pemerintah Provinsi DIY: BAPPERIDA, Paniradya Kaistimewan, serta dinas-dinas terkait seperti Dinas Kebudayaan, Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pariwisata, Pendidikan, hingga Dinas UKM dan Koperasi.
Pemerintah Kabupaten/Kota: Perwakilan dari Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Kota Yogyakarta, termasuk Ketua Forum Geoheritage masing-masing wilayah.
Instansi Teknis & Akademisi: Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), BPPTKG Yogyakarta, BKSDA, Balai Pelestarian Kebudayaan, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), serta Pusat Studi Geoheritage dan Geopark UPN “Veteran” Yogyakarta.
Pengelola Kawasan: Ketua Pengelola Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh dan Pengelola Warisan Dunia Sumbu Filosofi.
Internal Biro PIWP2: Tim penguatan pilar konservasi, edukasi, pengembangan ekonomi masyarakat, dan sarana pelaksanaan.
Agenda rapat dipandu oleh moderator Udiyono, S.Pi., M.M.A. (Analis Kebijakan Ahli Madya) dan mencakup sesi pemaparan materi serta diskusi mendalam mengenai pengelolaan Geopark Nasional Jogja tahun 2026.
Dengan semangat kebersamaan ini, Geopark Jogja optimis dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan di DIY sekaligus mengukuhkan posisi Yogyakarta sebagai bagian dari jaringan warisan dunia yang diakui secara internasional.





Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.